Selamat ulang tahun Ngik-Ngik… :)

Selamat ulang tahun Ngik-Ngik… 🙂

Ent…ah

Damai, sejuk pun datang ketika kubuka mata
Kusebut namamu cinta, saat kau jelang aku di pagimu
Belaimu senada detik dalam detak kala ku menuai hasrat
Lembut hingga tak mampu kuhempaskan pikiran itu

Kuterbuai asa tuk terus langkahkan kaki iringi pencarianmu
Atas hati yang terukir namamu, kupeluk jiwamu saat kuberlari
Kubawa bersama terik dan ikuti simfoni
Terus tersenyum kala menatap matamu dalam harmoni

Lelah mendera hingga jujur kau kurasakan tak kuasa
Nada terkoyak seiring hentak dalam detik yang terlaju
Kuteriakkan namamu cinta, saat kau hilang di senjamu
Sunyi kurasa,serpih namamu dalam hampa…

Ent…ah

Damai, sejuk pun datang ketika kubuka mata
Kusebut namamu cinta, saat kau jelang aku di pagimu
Belaimu senada detik dalam detak kala ku menuai hasrat
Lembut hingga tak mampu kuhempaskan pikiran itu

Kuterbuai asa tuk terus langkahkan kaki iringi pencarianmu
Atas hati yang terukir namamu, kupeluk jiwamu saat kuberlari
Kubawa bersama terik dan ikuti simfoni
Terus tersenyum kala menatap matamu dalam harmoni

Lelah mendera hingga jujur kau kurasakan tak kuasa
Nada terkoyak seiring hentak dalam detik yang terlaju
Kuteriakkan namamu cinta, saat kau hilang di senjamu
Sunyi kurasa,serpih namamu dalam hampa…

Self by Self

Adakah lagi cahayanya yang begitu cantik, yang buat ku tersenyum, yang hempaskan kehampaan yang merantaiku…
Akankah kembali terang di dalam anganku, disaat ku terjaga dalam mimpi, di kala ku mengetuk hati yang terkunci…
Hanya satu tatap penuh harap iringi waktu yang tinggalkan khayalku…
Tinggal sebait ucap sekeras hatiku yang masih terdengar…
Dan cahaya itu pun kembali terangi kesendirianku di kala ku menanti hadirmu lagi. . .

Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Hmmm, nggak tau kenapa tiba-tiba keinget sama satu lagu yang sebenarnya catchy, easy listening, dan cukup bagus buat saya. Tapi dari pertama denger itu ada satu hal yang mengganjal…

Yap, lagu Jangan Cintai Aku Apa Adanya yang dibawain sama Tulus sedikit mengganggu saya sebagai seorang pria. Kenapa begitu? Sebenarnya nggak jauh-jauh dari lirik lagu itu sendiri. Soal tema, cinta, bukan masalah kok.

Memangnya kenapa liriknya? Yaaa, mungkin sayanya aja yang terlalu kepikiran atau gimana. Atau mungkin agak, ya agak sedikit tidak sesuai dengan pandangan saya mengenai cinta. Woooww, segitunya saya…

Menurut opini saya, lagu ini mengisahkan tentang seorang pria yang menyukai (mencintai) seorang wanita yang ia pun tahu bahwa wanita itupun menginginkannya. Woooooww, ibarat nemu jalan tol lurus yang kosong… Gas pol pastinya. Hehehe… Hari-hari mereka lalui dengan bahagianya. Ya. Si cewek menerima si cowok apa adanya dengan segala kekurangannya. Pun ketika si cowok melakukan kesalahan, cewek itu memakluminya. Tapi apa yang terjadi? Cowok itu merasakan si cewek tak pernah menuntut dan itu takkan pernah membawa kemajuan buat (hubungan) mereka. Mungkin. Cowok itu meminta si cewek untuk menuntut. Menuntut sesuatu dari dia…

Nah, di sini point yang bikin saya merasa risih. Apa si cowok kalau nggak dituntut si cewek nggak bisa membawa mereka untuk maju? Kenapa mesti dituntut. Cinta itu harusnya dengan pengertian. Maksudnya? Ya kamu harus mengerti dirimu, pasanganmu, dan hubungan kalian. Katanya cinta. Ada chemistry di sana. Kalau nggak ada, jangan-jangan itu bukan cinta. Cowok itu adalah imam. Yang memimpin dirinya sendiri dan pasangannya. Harusnya punya visi ke depan dong. Punya rencana sekalipun rencananya adalah tanpa rencana. “Ah, cewek gue suka ini nih, besok gue kasih ah”, tanpa perlu menunggu si cewek minta dan menuntut kan. Apalah artinya suatu hubungan tanpa pemahaman dan pengertian?

Hubungan itu didasari komunikasi (bener nggaknya setidaknya itu opini saya). Lisan dan tulisan, maupun komunikasi jiwa. Komunikasi hati. Mencintai apa adanya bukanlah sebuah kesalahan. Pun meminta untuk tak dicintai dengan apa adanya. Toh semuanya punya niatan baik untuk kedepannya. Cinta tumbuh dan berbunga, atau layu seketika. Cinta tak perlu alasan dan tak dapat dijelaskan.

Ah cinta…

Mungkin Hanya Sedang Merasa Tersiksa…

Hari ini kuawali tanpa rencana, tanpa ambisi. Rasanya jengah bahkan berpikir pun kuhindari. Pagi yang dingin, bahkan hingga siang menjelang. Tak ada yang bisa kulakukan. Atau mungkin aku tak mau? 6 bulan terbaring kaku. Dalm artian tak sebenarnya tentu saja. Ternyata sudah lama. Jauh dari ekspektasi di muka yang optimis maksimal 2 bulan saja. Mengapa sampai 3 kali lipatnya? Aku pun tak mengerti. Motivasiku hilang pergi, tinggalkan keterpurukan yang semakin merajai. Cinta cita pergi semua. Tak mampu mengejarnya tak sanggup bahkan memikirkannya. Entahlah. Aku sedang tak punya hati…

No No No Nono…

Ibaratnya disaat kondisi melemah, dihadapkan pada tebing yang lebih terjal dengan level yang lebih tinggi pula. Pilihannya, atau mungkin prinsip pribadi saja, “yang akan terlewati, yang akan tercapai mesti lebih dan lebih dari yang sebelumnya”. Persoalannya, kondisinya sendiri sedang melemah. Dan saya, ataupun dia, mungkin juga anda, sebenarnya mengetahui hal itu. Mengetahui potensi diri. Memang tekad saja sebenarnya takkan cukup. Semua perlu realisasi dan tindakan nyata. “Tapi saya inginkan yang lebih dari sebelumnya yang pernah saya dapatkan”. Baiklah. Setidaknya jangan biarkan berlama-lama lemahnya kondisi itu. Pikirkan B sebelum menuju C.

Sedang Tanpa Acuan

Good morning…
Semalam masih saja sulit pejamkan mata, masih berlarian kesana kemari isi otak ini. Hmmm, isi yang buruk menampakkan dirinya disana-sini. Susah sekali buat positive thinking. Lemah sekali bahkan sekedar untuk mengontrol diri…
Terbangun pagi tadi, masih saja berkeliaran, meski tak sebanyak semalaman. What should i do what should i do…
Harus melupakan atau harus bertahan? Melupakan bukan berarti tak tahan, bukan berarti tak bertahan. Lantas apa? Harus bertahan dengan lupa…
Iya, saya sulit menentukannya. Harus melakukan ini sebelum itu. Harus segera mendapatkan ini bersama hal itu. Ahh, mungkin sedikit tetesan air mata tak mengapa…
Tentu saja diiringi banyak do’a. Sayangnya kadang tak mampu sesempurna itu (meski takkan pernah). Terlalu ceria iblis-iblis belakangan ini…
Fight… Fight… Fight…
Seberapa lama?

Bilamananti…


Malam ini aku galau lagi. Setelah tenang beberapa hari, tiba-tiba kesedihan itu menyeruak, mengusik kesendirianku.
Lagi bertanya, kenapa, mengapa, di saat ku mulai bisa memberikan yang ia minta, ia pergi 😦 tak mau lagi ia sedikit berikan waktu untukku. Kesempatan buatku 😦

Semoga saja, benar itu satu-satunya alasan ia meninggalkanku 😦 bukan kebohongan semata untuk pergi dariku.
Atas segala kekuranganku, kumohonkan ia untuk kembali…
Aku sungguh mencintainya.
………

i can do it

Berayun-ayun di gelapnya jiwa
Mengerang lirih tak bersuara
Bermanja-manja di sucinya hati
Bergumam lantang menepis sunyi
Jangan lagi, terisak di hadapan mentari
Jangan lagi, mengusik mimpi yang kan bersemi
Alangkah baiknya bila ku berdoa
Hanya kepada sang maha kuasa
Mestinya ku bisa menanti masanya
Kembalinya sang belahan jiwa
Berlari-lari di teriknya usia
Terengah pasrah tanpa menyerah
Terkoyak-koyak mengejar sang waktu
Membuka mata hadapi dunia
Bangkit lagi, teriak di hadapan mentari
Bangkit lagi, mencabik angan yang tak berarti